
*) Prof. Dr. H. Fatah Syukur, M.Ag., Dekan Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang.
Tanggal 16 – 19 Juli 2026 menjadi momentum penting bagi pengembangan pendidikan tinggi keagamaan Islam di Indonesia. Para Dekan Fakultas Sains dan Teknologi (FST), Wakil Dekan, dan Ketua Program Studi dari Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia akan berkumpul di Hotel Novotel Semarang dalam Forum Dekan FST PTKIN. Pertemuan ini bukan sekadar agenda rutin kelembagaan, melainkan ruang strategis untuk merumuskan arah baru pengembangan Fakultas Sains dan Teknologi sebagai lokomotif transformasi PTKIN menuju universitas yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global.
Forum tersebut menghadirkan tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak kuat dalam pengembangan pendidikan tinggi dan inovasi, antara lain Dirjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Prof. Dr. H. Suyitno, M.Ag.; Andi Rahadian, S.H., LL.M. dari Kementerian PANRB yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kesultanan Oman; Prof. Dr. Muhammad Nur, DEA., Guru Besar Bidang Plasma dan Radiasi Fisika Universitas Diponegoro sekaligus pendiri PT DIPO Teknologi; serta Prof. Dr. Imam Suprayogo, Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang periode 1997–2013 yang dikenal sebagai salah satu penggagas lahirnya Fakultas Sains dan Teknologi di lingkungan UIN.
Kehadiran para narasumber tersebut mencerminkan bahwa tantangan FST PTKIN tidak lagi berhenti pada pengembangan pembelajaran sains semata, tetapi telah bergeser menuju penguatan tata kelola universitas, hilirisasi riset, inovasi teknologi, serta integrasi antara sains dan nilai-nilai Islam. Inilah agenda besar yang menentukan masa depan PTKIN dalam satu dekade mendatang.
Selama lebih dari dua puluh tahun terakhir, transformasi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) menjadi Universitas Islam Negeri (UIN) telah melahirkan perubahan besar dalam lanskap pendidikan tinggi Islam. Kehadiran Fakultas Sains dan Teknologi merupakan salah satu tonggak penting transformasi tersebut. Langkah ini menunjukkan bahwa Islam tidak hanya berbicara mengenai ilmu-ilmu keagamaan, tetapi juga mendorong pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi sebagai bagian dari ikhtiar membangun kemaslahatan umat.
Namun demikian, keberadaan FST PTKIN masih menghadapi sejumlah tantangan. Di banyak kampus, orientasi pengembangan masih didominasi aktivitas pembelajaran. Penelitian belum sepenuhnya menghasilkan inovasi yang berdampak luas, kerja sama dengan dunia industri masih terbatas, hilirisasi hasil riset belum berjalan optimal, dan tata kelola kelembagaan masih memerlukan penguatan agar lebih adaptif terhadap dinamika global. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi struktural belum sepenuhnya diikuti oleh transformasi budaya akademik.
Karena itu, perubahan paradigma menjadi sebuah keniscayaan. Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN harus bertransformasi dari kampus yang sekadar menghasilkan lulusan menjadi kampus yang menghasilkan solusi. Ukuran keberhasilan tidak lagi cukup ditentukan oleh jumlah mahasiswa, program studi, atau publikasi ilmiah, melainkan juga oleh kemampuan menghadirkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat, dunia usaha, dan pembangunan nasional.
Transformasi tersebut setidaknya bertumpu pada tiga pilar utama.
Pilar pertama adalah Good University Governance (GUG). Tata kelola yang baik bukan hanya persoalan administrasi, melainkan budaya organisasi yang menjunjung tinggi transparansi, akuntabilitas, partisipasi, profesionalisme, efektivitas, efisiensi, serta integritas. Fakultas yang dikelola dengan prinsip-prinsip tersebut akan lebih adaptif menghadapi perubahan, lebih cepat mengambil keputusan strategis, serta mampu membangun kepercayaan publik. Dalam era persaingan global, tata kelola yang baik menjadi modal utama membangun reputasi akademik dan meningkatkan daya saing institusi.
Pilar kedua adalah hilirisasi riset. Selama ini banyak hasil penelitian dosen yang berakhir sebagai laporan atau artikel ilmiah tanpa menghasilkan dampak ekonomi maupun sosial. Paradigma tersebut harus diubah. Riset perlu diarahkan menjadi inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat, dikembangkan menjadi produk, memperoleh hak kekayaan intelektual, melahirkan perusahaan rintisan berbasis teknologi, serta memperkuat kemitraan dengan pemerintah dan dunia industri. Fakultas Sains dan Teknologi PTKIN memiliki potensi besar dalam bidang energi terbarukan, teknologi pangan halal, kesehatan, lingkungan, kecerdasan artifisial, rekayasa material, hingga teknologi digital yang dapat memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan bangsa.
Pilar ketiga adalah integrasi sains dan Islam. Inilah karakter yang membedakan FST PTKIN dengan fakultas sains di perguruan tinggi lainnya. Integrasi tersebut bukan sekadar mencantumkan ayat Al-Qur’an pada setiap mata kuliah, melainkan membangun paradigma keilmuan yang memadukan kecanggihan teknologi dengan nilai-nilai etika, spiritualitas, kemanusiaan, dan keberlanjutan. Sains yang dikembangkan harus melahirkan teknologi yang memuliakan manusia, menjaga kelestarian lingkungan, dan menghadirkan kemanfaatan yang luas. Dengan demikian, FST PTKIN dapat menjadi pelopor lahirnya ilmuwan yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter moral yang kuat.
Ketiga pilar tersebut saling berkaitan. Tata kelola yang baik akan melahirkan budaya akademik yang sehat. Budaya akademik yang sehat akan mendorong penelitian bermutu. Penelitian yang bermutu akan menghasilkan inovasi. Sementara integrasi sains dan Islam memastikan bahwa inovasi tersebut tetap berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan.
Ke depan, FST PTKIN juga perlu membangun jejaring kolaborasi yang lebih luas. Kolaborasi antarfakultas, antar-PTKIN, dengan perguruan tinggi umum, lembaga riset, pemerintah daerah, kementerian, industri, dan mitra internasional harus menjadi budaya baru. Tidak ada lagi ruang bagi institusi yang bekerja sendiri. Inovasi lahir dari kolaborasi multidisipliner yang mempertemukan berbagai keahlian dalam satu ekosistem yang produktif.
Forum Dekan FST PTKIN di Semarang diharapkan menjadi titik awal lahirnya agenda bersama yang lebih konkret. Forum ini tidak hanya menghasilkan rekomendasi administratif, tetapi juga peta jalan transformasi FST PTKIN menuju tahun 2045, ketika Indonesia memasuki satu abad kemerdekaan. Pada saat itu, FST PTKIN diharapkan telah menjadi pusat unggulan (center of excellence) dalam pengembangan sains, teknologi, inovasi, dan peradaban Islam yang diakui di tingkat global. Akhirnya, transformasi Fakultas Sains dan Teknologi bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan. Dunia berubah sangat cepat, sementara tantangan bangsa semakin kompleks. Oleh karena itu, FST PTKIN harus tampil sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang inovatif, tata kelola yang modern, riset yang berdampak, serta integrasi sains dan Islam yang melahirkan peradaban baru. Dari sinilah masa depan PTKIN akan ditentukan: bukan lagi sekadar sebagai kampus pengajaran, tetapi sebagai kampus inovasi dan peradaban yang memberi manfaat bagi Indonesia dan dunia. ***
Telah terbit dan dmuat pada harian Suara Merdeka Sabtu, 18 Juli 2026.