Semarang, 20 Agustus 2026 Sekelompok peneliti dari UIN Walisongo Semarang dan Sampoerna University sedang merancang sistem pemantauan portabel untuk mengetahui bagaimana kondisi lambung dan otak seseorang berubah selama berpuasa. Inti alatnya memakai prinsip Electrical Impedance Tomography (EIT), teknologi yang membaca perubahan sinyal listrik dalam tubuh untuk mengetahui kondisi organ dalam tanpa memerlukan alat pemindai besar.

Ketua Tim Riset, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag., memimpin kolaborasi dua kampus ini. Program MORA The AIR Funds, hasil kerja sama Kementerian Agama dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), mendanai riset tersebut.

Tim dari kedua kampus berkumpul secara daring melalui Zoom pada Kamis, 20 Agustus 2026, untuk menggelar Focus Group Discussion (FGD). Dari UIN Walisongo Semarang, hadir Heni Sumarti, M.Si., Dr. Susilawati, M.Pd., Muhammad Izzatul Faqih, M.Pd., Widyastuti, S.Pd., dan Thooriq Nur Ali, S.Kom. Dari Sampoerna University, hadir Panji Nursetia Darma, Ph.D., Muhammad Agni Catur Bhakti, Ph.D., dan Eunike Mutiara, Ph.D.

Dalam pertemuan itu, tim menyamakan arah penelitian sekaligus mematangkan desain pengukuran sebelum turun ke lapangan. Mereka membahas kesiapan purwarupa alat dan gambaran kondisi yang bakal dihadapi saat pengambilan data nanti di Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang.

Panji Nursetia Darma, Ph.D., penasihat teknis pengembangan alat ini, memaparkan perjalanan riset EIT portabel yang dirintis Sampoerna University sejak 2020. Teknologi tersebut kini siap diuji dalam situasi yang belum pernah dicoba sebelumnya: memantau kondisi lambung dan otak seseorang saat berpuasa Ramadan, sembari mendengarkan murotal Surah Al-Fatihah sebagai stimulus relaksasi spiritual.

“Kami ingin melihat bagaimana puasa memengaruhi aktivitas otak dan fungsi lambung secara bersamaan, dan bagaimana respons tubuh berubah ketika seseorang mendengarkan Al-Qur’an,” kata Panji.

Heni Sumarti, M.Si., yang mengurus manajemen dan penyempurnaan purwarupa EIT, mengingatkan bahwa kesiapan teknis alat harus matang sebelum tim mengambil data di lapangan.

Musahadi menilai riset ini mempertemukan dua bidang yang jarang berjalan bersama: teknologi biomedis dan kajian keislaman. Ia berharap alat ini kelak dipakai langsung di lingkungan pesantren dan kampus keagamaan, sejalan dengan hasil ujinya di laboratorium.

“Ini bukan sekadar riset teknologi. Ini adalah upaya menjembatani sains modern dengan tradisi spiritual Islam, menunjukkan bahwa keduanya bisa saling melengkapi dalam meningkatkan kualitas hidup,” ujar Musahadi.

Tim akan memakai hasil FGD ini untuk menyempurnakan desain penelitian sebelum mengambil data lapangan. Rencananya, riset melibatkan puluhan mahasiswa laki-laki tingkat pertama di Ma’had Al-Jami’ah UIN Walisongo Semarang, sebagian menjalani puasa Ramadan dan sebagian lainnya intermittent fasting.

Tim berharap alat yang dihasilkan bisa dipakai memantau kondisi fisik dan spiritual mahasiswa selama berpuasa, sekaligus menjadi salah satu rujukan bagi Kementerian Kesehatan dan Kementerian Agama dalam mendukung kesehatan umat Islam di era digital.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *